Hari ini, aku cuma pengen cerita sedikit tentang suami eike,
Seiring bertambahnya taun kami bersama (*duileeee bahasanya ceuuu), aku kok makin kagum sama dese...
Beberapa bulan ini kita bnayak diparingi cobaan, sebenarnya ya enggak yang gimana2 juga sih, tapi it's a lil bit hard for me, up and down, banyak hal yang bikin eike makin ngroeng kayak pitik babon.
Dengan cara pandang dese buat facing life, gimana cara menghadapi hidup, semakin wise,
He teaches me how to be grateful and how to solve each problem in our life. Sedikit demi sedikit dese nuntun dan semakin dewasa...
Hari ini benar benar baru aku sadari he grows up dan makin dewasa dalam nuntun aku istrinya yang upyekkkkk wae kyo remahan peyek.
I want to compliment him, but I don't know how to express it. So, I just want to share it here. As my own note, my own story, how I admire him...
I'm so lucky having you to be my husband, walaupun jauh dari kata ganteng dan kaya, but I'm so grateful Allah has chose him to be mu husband.
Paksu jarang baca blog eike sihhhh, tapi buat kamu diluar sana yang ngerasa lagi empet sama suaminya, yuk kita telaah dulu awal mula kita mutusin hidup bareng apa...
Jangan mulu pikirin jeleknya dia ya sesss..
Kalau pas on point kalian sedang merasa down, coba di ingat kembali kebaikan pasangan kita...
Dulu nggak se begitu mudahnya jg kan mutusin nikah...
So, love them just the way they are...
Tenang aja, they will grow mature time by time kok...
Saturday, 23 March 2019
Monday, 4 March 2019
Sajak Malam Ini
Berdawai dalam nada itu indah...
Sangat indah...
Apalagi jika dawainya bergema membuat gentar isi alam semesta..
Mengalun lembut dalam untaian doa...
Layaknya percikan kata yang mampu meluluh lantahkan seikat rasa...
Ahhh... Mungkin ini semua terlalu fatamorgana,
Yang seakan membuatku terlena..
Dan ketika semua memandangku nanar seolah berkata "hai janganlah kau bermimpi dengan rampasan angan"
Aku hanya diam, diam, diam, tak bersua
Karena kuyakin dawaian-Nya akan lebih indah pada waktunya...
Ahhh... Mungkin ini semua terlalu fatamorgana,
Yang seakan membuatku terlena..
Dan ketika semua memandangku nanar seolah berkata "hai janganlah kau bermimpi dengan rampasan angan"
Aku hanya diam, diam, diam, tak bersua
Karena kuyakin dawaian-Nya akan lebih indah pada waktunya...
Ujung Hati Gemintang
Tukkkkk tukkkkk tukkkkk...
Suara ketuk heels sepatu terdengar samar samar di tengah hingar bingar malam yang belum juga nampak memudar. Jam menunjukkan pukul dua belas. Namun, rasanya enggan aku berlari dan mengejar waktu.
Hari ini terasa sangat melelahkan. Semua berjalan jauh dari rencana yang telah kususun rapi malam sebelumnya. Ahhh... sampai kapan...
Angin malam mulai berhembus, kurapatkan coat luaranku. Nampaknya salju akan turun dalm waktu dekat. Tanpa kusadari, semua daun nyaris menguning berguguran berserakan di sepanjang jalan.
"Musim dingin akan segera tiba..."
Krukkkkkkk....
Tiba-tiba terdengar suara perutku menyampaikan protesnya. Dan aku baru saja tersadar belum ada seputong makanan pun yang masuk sedari siang tadi. Ya, mungkin aku hanya terlampau sibuk. Sibuk dengan hal yang aku sendiri pun tak mengerti mengapa aku harus melakukan semua itu.
Terlihat bebebrapa pemuda yang masih berjalan menyusuri dinginnya kota malam ini. Tentu saja, semua restoran sudah tutup pada jam jam ini. Mungkin kau hanya bisa menemukan beberapa resto cepat saji yang memang buka dua puluh empat jam.
Baiklah, mungkin aku tidak harus makan malam ini. Setidaknya aku masih ingat masih menyimpan beberapa loaf roti sisa sarapan tadi.
Kirapatkan kembali coat ku, ahhh mengapa malam ini begitu dingin. Jalanan terasa lebih jauh di kala musim dingin tiba.
Dengan langkah kaki yang tak terlalu cepat namun tak terlalu lambat juga, aku mulai memasuki pelataran bangunan apartemen ku. Seperti biasa, tak lupa aku mengecek loker titipan ku.
Sebuah surat,
Dari Indonesia...
Ku ambil amplop berwarna coklat tersebut dan kupercepat langkahku menuju lift, ku tekan tombol angka lima, lantai apartemenku. Sunyi, sudah pasti, para manusia mungkin sudah terlelap indahnya mimpi masing- masing dengsn bantal empuk nsn hangat.
Sudah hampir lima tahun aku terbiasa dengan kesendirian ini. Jauh di tanah rantau tanpa sanak saudara di usia ku yang tergolong masih muda, 26 tahun. Kuhampiri amplop coklat tadi, agaknya malas untuk membuka dan membaca isinya. Mataku sudah terlalu lelah dengan semua huruf huruf setelah seharian kupaksa menyelesaikan proofing sebuah novel romansa. Tunggu ya, besok akan kubaca engkau ..
"Hemphhh...." Lelah? Terlalu bosan mengucap kata lelah. Benar saja, dalam hitungan detik aku pun sudah jatuh tertidur dengsn pulasnya. Tenang, toh tidur ini pun hanya berjalan 4 jam. Kehidupan yang sangat monoton.
....
"Apa kabar, Gemintang..."
Bapak dan adekmu disini alhamdulilah sehat, piye kabarmu...Bapak sama Nendra cuma kepingin tahu kabarmu, semoga kamu disana sehat dan baik, nduk, pulanglah, Bapak sama Nendra sangat berharap kamu bisa pulang dan berkumpul kembali di rumah,
Bila ada waktu, tolong balas lah surat ini, Nduk
Bapak selalu kepikiran gimana keadaan kamu disana,
Maafkan Bapak,
Telepon lah kerumah, Nduk
Paling tidak bicaralah pada Nendra, Nendra sangat mengharapkan telepon darimu.
Nendra akan menempuh ujian akhirnya bulan depan, doakan adikmu supaya bisa diterima di Universitas yang dia inginkan.
Sekian saja surat dari Bapak,
Tolong dibalas ya, Nduk..."
....
Enggan aku menyimpannya, kurangsek kertas tersebut dan kubuang ke tong sampah di dekat meja makan. Semua masih baik-baik saja bagiku. Di sini, aku hidup dengan belenggu hidup ku sendiri yang telah kurajut sedemikian rupa.
Mereka tak berhak mengatur atau bahkan hanya sekedar untuk memintaku pulang. Kemana mereka 6 tahun yang lalu? Tak ada, mereka tak ada di sampingku ketika aku sangat membutuhkannya.
Sudahlah, buat apa merusak mood pagiku dengan untaian masa lalu yang bahkan aku sendiri malas mengingatnya.
Kuteguk habis teh dalam cangkir mungilku lalu segera kuberanjak pergi berlari kembali mengejar waktu. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Baiklah, ayo kita mulai hari yang sama lagi hingga aku bosan dan berubah pikiran untuk pulang kembali ke Indonesia.
....
Hari ini cuaca New York sedang sangat bersahabat, hangat, meski aku tetap saja harus mengenakan coat lapis dua namun setidaknya tanganku tidak terasa terlalu sebeku hari hari yang lalu.
Ada janji yang harus kutepati, bertemu dengan Dean di Soprano Cafe tepat pukul sebelas. Bertemu dengan rekan kerja, di hari libur begini, apa yang akan kau harapkan?
Kutengok arlojiku, aku terlambat...
Setiba di Soprano, dari kejauhan kulihat Dean duduk di desk pinggir jendela kaca. Dengan melambaikan tangan tanda "hai aku disini" dia tersenyum ke arahku.
"Kau terlambat..."
"Ya, ku kira 25 menit bukan suatu keterlambatan yang luar biasa, setiap hari aku sudah penat mengejar waktu berlarian ke kantor"
"We are in the same boat" cuitnya sambil tersenyum penuh arti.
"Jadi... Apa dan mengapa aku harus menemuimu di siang hari liburku yang seharusnya aku bisa melenggang santai dengan tumpukan bantal di rumah?" Tanyaku pada Dean
"Banyak... Ini sisa rekap proofing new writer yang kemarin lupa ku kirimkan padamu"
"Astaga, Dean, harusnya kau bisa serahkan itu padaku lusa di kantor"
"Tunggu, ada alasan lainnya"
"Apa?"
"Temani aku berbelanja kebutuhan di Saint Market"
"Whattttt?" Jawabku dengan ekspresi kaget
"Ayolah, sangat membosankan berbelanja sendiri sebagai laki laki 34 tahun membawa trolly kesana kemari"
"Kalau begitu menikahlah hai pria 34 tahun"
"Denganmu?"
"Oh, please, Dean, lelucon apalagi itu"
"Aku mungkin tidak sedang membuat lelucon, Gemintang." jawabnya
"Kau pasti masih mengantuk, sudahlah..." Selorohku sambil melengang pergi menuju whole mart.
"Hei... Tunggu, Gadis sombong!"
Dan kami pun berjalan beriringan di tengah terik matahari New York namun masih membuat kami menggigil dengan suhu minus nol derajat kala itu.
Aku mengenal Dean tiga tahun yang lalu. Saat itu aku sudah lebih lama bekerja di kantorku, Executive Publishing Company. Ya, bisa disebut aku seniornya. Namun, Dean sudah lebih lama bekerja dalam lingkup penerbitan di perusahaan sebelumnya.
Suara ketuk heels sepatu terdengar samar samar di tengah hingar bingar malam yang belum juga nampak memudar. Jam menunjukkan pukul dua belas. Namun, rasanya enggan aku berlari dan mengejar waktu.
Hari ini terasa sangat melelahkan. Semua berjalan jauh dari rencana yang telah kususun rapi malam sebelumnya. Ahhh... sampai kapan...
Angin malam mulai berhembus, kurapatkan coat luaranku. Nampaknya salju akan turun dalm waktu dekat. Tanpa kusadari, semua daun nyaris menguning berguguran berserakan di sepanjang jalan.
"Musim dingin akan segera tiba..."
Krukkkkkkk....
Tiba-tiba terdengar suara perutku menyampaikan protesnya. Dan aku baru saja tersadar belum ada seputong makanan pun yang masuk sedari siang tadi. Ya, mungkin aku hanya terlampau sibuk. Sibuk dengan hal yang aku sendiri pun tak mengerti mengapa aku harus melakukan semua itu.
Terlihat bebebrapa pemuda yang masih berjalan menyusuri dinginnya kota malam ini. Tentu saja, semua restoran sudah tutup pada jam jam ini. Mungkin kau hanya bisa menemukan beberapa resto cepat saji yang memang buka dua puluh empat jam.
Baiklah, mungkin aku tidak harus makan malam ini. Setidaknya aku masih ingat masih menyimpan beberapa loaf roti sisa sarapan tadi.
Kirapatkan kembali coat ku, ahhh mengapa malam ini begitu dingin. Jalanan terasa lebih jauh di kala musim dingin tiba.
Dengan langkah kaki yang tak terlalu cepat namun tak terlalu lambat juga, aku mulai memasuki pelataran bangunan apartemen ku. Seperti biasa, tak lupa aku mengecek loker titipan ku.
Sebuah surat,
Dari Indonesia...
Ku ambil amplop berwarna coklat tersebut dan kupercepat langkahku menuju lift, ku tekan tombol angka lima, lantai apartemenku. Sunyi, sudah pasti, para manusia mungkin sudah terlelap indahnya mimpi masing- masing dengsn bantal empuk nsn hangat.
Sudah hampir lima tahun aku terbiasa dengan kesendirian ini. Jauh di tanah rantau tanpa sanak saudara di usia ku yang tergolong masih muda, 26 tahun. Kuhampiri amplop coklat tadi, agaknya malas untuk membuka dan membaca isinya. Mataku sudah terlalu lelah dengan semua huruf huruf setelah seharian kupaksa menyelesaikan proofing sebuah novel romansa. Tunggu ya, besok akan kubaca engkau ..
"Hemphhh...." Lelah? Terlalu bosan mengucap kata lelah. Benar saja, dalam hitungan detik aku pun sudah jatuh tertidur dengsn pulasnya. Tenang, toh tidur ini pun hanya berjalan 4 jam. Kehidupan yang sangat monoton.
....
"Apa kabar, Gemintang..."
Bapak dan adekmu disini alhamdulilah sehat, piye kabarmu...Bapak sama Nendra cuma kepingin tahu kabarmu, semoga kamu disana sehat dan baik, nduk, pulanglah, Bapak sama Nendra sangat berharap kamu bisa pulang dan berkumpul kembali di rumah,
Bila ada waktu, tolong balas lah surat ini, Nduk
Bapak selalu kepikiran gimana keadaan kamu disana,
Maafkan Bapak,
Telepon lah kerumah, Nduk
Paling tidak bicaralah pada Nendra, Nendra sangat mengharapkan telepon darimu.
Nendra akan menempuh ujian akhirnya bulan depan, doakan adikmu supaya bisa diterima di Universitas yang dia inginkan.
Sekian saja surat dari Bapak,
Tolong dibalas ya, Nduk..."
....
Enggan aku menyimpannya, kurangsek kertas tersebut dan kubuang ke tong sampah di dekat meja makan. Semua masih baik-baik saja bagiku. Di sini, aku hidup dengan belenggu hidup ku sendiri yang telah kurajut sedemikian rupa.
Mereka tak berhak mengatur atau bahkan hanya sekedar untuk memintaku pulang. Kemana mereka 6 tahun yang lalu? Tak ada, mereka tak ada di sampingku ketika aku sangat membutuhkannya.
Sudahlah, buat apa merusak mood pagiku dengan untaian masa lalu yang bahkan aku sendiri malas mengingatnya.
Kuteguk habis teh dalam cangkir mungilku lalu segera kuberanjak pergi berlari kembali mengejar waktu. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Baiklah, ayo kita mulai hari yang sama lagi hingga aku bosan dan berubah pikiran untuk pulang kembali ke Indonesia.
....
Hari ini cuaca New York sedang sangat bersahabat, hangat, meski aku tetap saja harus mengenakan coat lapis dua namun setidaknya tanganku tidak terasa terlalu sebeku hari hari yang lalu.
Ada janji yang harus kutepati, bertemu dengan Dean di Soprano Cafe tepat pukul sebelas. Bertemu dengan rekan kerja, di hari libur begini, apa yang akan kau harapkan?
Kutengok arlojiku, aku terlambat...
Setiba di Soprano, dari kejauhan kulihat Dean duduk di desk pinggir jendela kaca. Dengan melambaikan tangan tanda "hai aku disini" dia tersenyum ke arahku.
"Kau terlambat..."
"Ya, ku kira 25 menit bukan suatu keterlambatan yang luar biasa, setiap hari aku sudah penat mengejar waktu berlarian ke kantor"
"We are in the same boat" cuitnya sambil tersenyum penuh arti.
"Jadi... Apa dan mengapa aku harus menemuimu di siang hari liburku yang seharusnya aku bisa melenggang santai dengan tumpukan bantal di rumah?" Tanyaku pada Dean
"Banyak... Ini sisa rekap proofing new writer yang kemarin lupa ku kirimkan padamu"
"Astaga, Dean, harusnya kau bisa serahkan itu padaku lusa di kantor"
"Tunggu, ada alasan lainnya"
"Apa?"
"Temani aku berbelanja kebutuhan di Saint Market"
"Whattttt?" Jawabku dengan ekspresi kaget
"Ayolah, sangat membosankan berbelanja sendiri sebagai laki laki 34 tahun membawa trolly kesana kemari"
"Kalau begitu menikahlah hai pria 34 tahun"
"Denganmu?"
"Oh, please, Dean, lelucon apalagi itu"
"Aku mungkin tidak sedang membuat lelucon, Gemintang." jawabnya
"Kau pasti masih mengantuk, sudahlah..." Selorohku sambil melengang pergi menuju whole mart.
"Hei... Tunggu, Gadis sombong!"
Dan kami pun berjalan beriringan di tengah terik matahari New York namun masih membuat kami menggigil dengan suhu minus nol derajat kala itu.
Aku mengenal Dean tiga tahun yang lalu. Saat itu aku sudah lebih lama bekerja di kantorku, Executive Publishing Company. Ya, bisa disebut aku seniornya. Namun, Dean sudah lebih lama bekerja dalam lingkup penerbitan di perusahaan sebelumnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)