Langit remang berwarna jingga dan menggelap di ujung timur. Suara burung-burung berterbangan menandakan telah tiba saatnya untung pulang ke sarang. Begitu pula para manusia, jam-jam dimana mereka (seharusnya) mengayuh langkah menuju "rumah" dan bertemu keluarga mereka.
Indah ya?
Namun klise bagiku...
Setumpuk cucian kering di hadapanku membuatku sadar, bangun, hai Shalimar, ini bukan dunia mimpi!
Sambil menghela nafas dalam kulanjutkan pekerjaan rumah yang paling aku benci, menggosok pakaian, haha..
Anak-anak masih setia menonton acara kartun kesayangan mereka di televisi yang seingatku episode nya bisa di ulang-ulang dalam tiga hari, dan mereka tak bosan-bosannya, masih saja tertawa tergelak setiap si tokoh utama membuat lawakan. Andaikan hidup selucu lawakan mungkin aku sudah tak berhenti tergelak dari aku lahir.
"Kak, adeknya di ajak makan dulu, yah, Ibu mau sambil masak di dapur." Ujarku pada Abi, anakku yang tertua berumur 7 tahun.
"Sebentar lah, Bu, masi seru ini ceritanya."
"Sudah magrib, Kak, belum mandi juga kan kalian." Sanggahku
"Ibuuuu adek mau makan sosis." Kata Ubay anakku yang kedua.
"Emmm, hari ini kita lauk tempe goreng saja ya, Dek, besok Ibu belikan sosis buat adek." Jawabku sambil berusaha tersenyum.
Anak kecil berumur 4 tahun itu pun mengangguk ceria. Badannya kecil, suaranya yang cempreng selalu menguatkanku untuk terus hidup. Abi pun demikian, hanya demi mereka aku masih terus bisa bernapas melawan kuatnya arus kehidupan.
"PR sudah dikerjakan, Bi?"
"Sudah, Bu."
"Ya sudah, sana susul adekmu di kamar, tidur ya, besok sekolah."
"Oke, Bu."
Beres. Anak-anak sudah mandi, makan dan tidur. Waktunya aku sendiri mengisi perut yang sedari sarapan siang belum ku isi apapun.
"Tingtunggg"
Ada pesan whassap masuk.
"Ehhhh..." Pekikku.
Aku berlari menuju pagar. Mobil hitam berplat B menepi dan parkir persis di depan pagar rumah kami. Dia datang. Aku tersenyum.
"Sudah makan?" Tanya nya dari jendela mobil.
"Belum, mas, baru saja mau nyentong nasi. Mas sudah makan?"
"Sudah tadi, ini kubawakan sop sapi kesukaanmu" kata pria yang tidak bisa disebut muda lagi tersebut mengulurkan kantong kresek berisi sop sapi kesukaanku.
Kami berjalan masuk ke dalam rumah sambil dia memeluk bahuku dari samping.
Beliau langsung menuju kamar anak-anak. Dengan agak setengah kecewa, beliau menutup pintu kamar anak-anak, jelas terlihat dari air muka beliau, rasa rindu yang menumpuk seminggu ini pada anak-anak belum dapat terobati.
"Besok kan bisa, Mas main sama anak-anak dulu" ujarku padanya.
"Besok subuh aku harus ke Jakarta lagi, Limar, kamu juga tau, kan" jawabnya singkat
"Kasian anak-anak, Mas, mereka rindu sama kamu, bagaimana hidup mereka kalau begini terus, Mas, mereka tidak pernah bisa mendapatkan sosok ayah selama ini." Rentet nada kalimatku mulai meninggi.
"Mulai lagi, kan, sudahlah aku sesang capek sekarang, aku malas berdebat hari ini, aku cuma ingim istirahat jauh-jauh kesini, bukan untuk mendengarkan semua kesahmu yang tidak berkesudahan itu". Jawabnya dengan nada hopeless
"Selalu seperti itu..." Jawabku lemah sbil nerlalu menuju dapur
Kuselesaikan makan malamku dan tak terasa airmata yang sudah kubendung daritadi pun mengalir deras. Sambil twrus berusaha kutahan agar tak makin menjadi, ku kencangkan keran air wastafel. Dan ternyata sia-sia...
"Kamu kenapa sih, Limar... Bertahun-tahun kamu tahu memang seperti ini keadaannya... Mau sampai kapan seperti ini, ayolah, kita jarang sekali bertemu, aku sangat merindukanmu dan anak-anak tentunya..." Ucapnya sambari berusaha memelukku
"Sampai aku bosan dan sudah tak tahan lagi menjalani hidup seperti ini, Mas... Entah sampai kapan aku bisa bertahan, entah sampai kapan aku bisa menjalaninya, dan kalau nantinya aku sudah di titik dimana aku sudah tak bisa lagi berjalan bersamamu, biarkan aku dan anak-anak berjalan menjauh, Mas... Lepaskan kami" berderai sudah airmata ku
"Kamu ngomong apa sih, Limar, sudah malam, ayo kita tidur..." Jawabnya seraya berlalu meninggalkan ku sendiri
.....
Pagi buta, Beliau sudah mandi dan bersiap berangkat kembali ke Jakarta. Pria berperawakan tinggi besar dengan rambut cepak itupun sudah rapi memakai kemeja kerja nya.
Setelah terlihat menghampiri anak-anak yang masih tertidur lelap tentunya, beliau bergegas membawa tas dan kunci mobil dan menghampiriku.
"Aku pergi dulu, Ya... Titip anak-anak, uang bulanan masih kan? Nanti kuntransfer lagi agak siang, ya" kata beliau sambil mengecup dahiku lembut
"Aku masih rindu, Mas..." Jawabku lirih
"Sama, aku juga... Minggu depan ku usahakan kesini siang supaya bisa ketemu anak-anak"
"Hemmmm..." Ujarku dengan penuh ketidakpercayaan
Dan beliau berlalu begitu saja, tinggal aku di depan pagar dengan dinginnya angin subuh.
Mobil CR-V hitam itu pun sudah berlalu sedari tadi, namun aku masih belum juga bergeming dari tempatku berdiri.
Ahhhh, airmata lagi, sudah bosan rasanya dengan airmata ini.
Ingin kuakhiri semua ini, tapi mengapa selalu selalu dan selalu tak pernah bisa. Ya Allah, apakah akan begini saja seterusnya. Sampai kapan.
Apakah aku sudah terlampau cinta padanya hingga hidup pas-pas an pun kuterima, dan bukan menjadi yang pertama. Aku hanya pilihan baginya namun beliau bukan pilihan bagiku, melainkan yang utama bagiku dan anak-anakku. Mana bisa aku menjauh darinya, mau pergi kemana kita.
Kuusap kasar airmata yang menetes di peluh pipiku. Berat, sangat berat...
Salah siapa?
Semua salah, aku tak akan pernah menyalah siapa pun, karena aku pun sadar aku menerimanya di saat sudah pasti aku bukan yang pertama dan yang utama di hatinya, di hati pria yang sepantasnya ku panggil "Paman" itu.
Delapan tahun sudah kujalani hidup hina seperti ini. Belum sebanding sebenarnya dengan hidupku yang terlahir sebagia yatim piatu dan sudah merasakan pahit dan kerasnya hidup dari usia belia.
Setidaknya sekarang aku dapat bersandar pada seseorang meskipun masih dalam kondisi yang pas-pas an. Bohong apabila kau melihat kisah-kisah diluaran sana hidup sebagai seorang simpanan dengan semua yang serba mewah, tidak semua, karena ada di antaranya yang cuma tergiur cinta dan rela menjadi yang kedua, ketiga atau bahkan ke empat dnegan hidup yang serba biasa.
Bodoh ya, ucap saja aku bodoh, aku memang sebodoh itu, biarlah dunia yang mengecapku, aku sudah bebal dengan semua rasa hingga air mata pun terasa sepa di kecapku.
Mungkin... Mungkin nanti, bila suatu saat aku sudah benar-benar tak bisa lagi menjalaninya, aku kan berlari menjauh dari pusaran hidupnya, nanti suatu saat, atau mungkin juga tidak...
Langit semakin memudar gelapnya.
Warna terang sang surya mulai terlihat semburat gradasinya di ufuk timur sana. Sudah pagi, mari kita sambut hari ini, hari yang baru, yang mungkin sama suramnya, hidup sebagai Shalimar, si istri kedua...