Friday, 24 December 2021
My Life Update
Thursday, 4 November 2021
Hujan di Pangkal Senja Bulan November
Bukan mau nulis cerpen sih,
Cuma mau nulis ungkapan isi hati,
November yang mulai dihiasi mendung tiap hari, dan sesorean ini ikutan kelabu hati mamack,
Berita duka dari pasangan artis kecelakaan di salah satu ruas tol jawa timur bener-bener bikin ati mamack kelabu.
Kenal?kagak, pernah ketemu?kagak juga, cuma tahu dari tivi, tapi entahlah, tiap denger berita duka begini ofkok ya ati ikut remuk, ikut kelabu.
Kembali di ingatkan sebuah petuah,
"Dan sebaik-baiknya nasihat di dunia ini adalah KEMATIAN..."
Allahuakbar,
Nggak salah kalau kita seharusnya berterimakasih pada mereka yang sudah berpulang,
Coba deh, renungin yuk,
Tiap denger brita duka, apalagi dengan bumbu kisah yang menyayat ati, nggak mungkin kalo ati ga kesentil sedikit pun.
Ada brita yah kan, pejabat Z ditangkap karena korupsi, dah, biasa aja kan,
Ada berita banjir di daerah A bla bla bla, dah, paling cuma lewat telinga doang,
Nah, sekarang coba renungin pas kita dengar brita kematian,
That's it,
Something that makes you think deeper, deeper, and deeper...
Sedekat itu batas antara takdir hidup dan jarak kematian,
Asli sih, nangis senangis nangis nya kok kalo bener bener meresapi maknanya.
Mau sombong buat apaaa??
Harta berjibun buat apaaa?? (Though we still need it lho ya, orang hidup juga ga mungkin ga pake duit yekan)
Cuman pas begini ya jadi mikir , kok ngejar nya sampe se gitu nya, buat apa, nggak akan di bawa kemana-mana ðŸ˜.
We really can't guess when "our time" ends...
Story sang artis, masih bisa di lihat, 6 jam yang lalu, masih IG simpan, tapi orangnya udah ga ada, potek ati ku bunds,
Apalagi di dalam mobil ada sang anak juga, Alhamdulilah si anak selamat, potek se potek-potek nya ðŸ˜,
Setipis itu, bayangin,
Manusia oh manusia,
Semua bener-bener literally titipan dari Allah, Allah sang pemilik, ketika Allah berkehendak ngambil, ya udah, g perlu ijin mu, ambil at that second tanpa permisi,
Balik lagi,
Nasihat kematian itu nyata sekali,
Kayak di remes-remes ini ati, campur aduk, dan mentok, ya udah, Allah yang punya ini semua,
Ya udah mau gimana lagi,
Cukup jadi lah orang yang baik, jaga titipan Allah, jadi nggak kelabakan pas nanti diminta kembali, udah, cara jaganya gimana? Ya udah, udah tau pasti musti ngapain aja kan...
Sedih lho aku ini, kelabu sore ku,
Semoga diampuni segala dosa almarhum dan almarhumah, Aamiin...
Monday, 30 August 2021
Tanpa Judul
Langit remang berwarna jingga dan menggelap di ujung timur. Suara burung-burung berterbangan menandakan telah tiba saatnya untung pulang ke sarang. Begitu pula para manusia, jam-jam dimana mereka (seharusnya) mengayuh langkah menuju "rumah" dan bertemu keluarga mereka.
Indah ya?
Namun klise bagiku...
Setumpuk cucian kering di hadapanku membuatku sadar, bangun, hai Shalimar, ini bukan dunia mimpi!
Sambil menghela nafas dalam kulanjutkan pekerjaan rumah yang paling aku benci, menggosok pakaian, haha..
Anak-anak masih setia menonton acara kartun kesayangan mereka di televisi yang seingatku episode nya bisa di ulang-ulang dalam tiga hari, dan mereka tak bosan-bosannya, masih saja tertawa tergelak setiap si tokoh utama membuat lawakan. Andaikan hidup selucu lawakan mungkin aku sudah tak berhenti tergelak dari aku lahir.
"Kak, adeknya di ajak makan dulu, yah, Ibu mau sambil masak di dapur." Ujarku pada Abi, anakku yang tertua berumur 7 tahun.
"Sebentar lah, Bu, masi seru ini ceritanya."
"Sudah magrib, Kak, belum mandi juga kan kalian." Sanggahku
"Ibuuuu adek mau makan sosis." Kata Ubay anakku yang kedua.
"Emmm, hari ini kita lauk tempe goreng saja ya, Dek, besok Ibu belikan sosis buat adek." Jawabku sambil berusaha tersenyum.
Anak kecil berumur 4 tahun itu pun mengangguk ceria. Badannya kecil, suaranya yang cempreng selalu menguatkanku untuk terus hidup. Abi pun demikian, hanya demi mereka aku masih terus bisa bernapas melawan kuatnya arus kehidupan.
"PR sudah dikerjakan, Bi?"
"Sudah, Bu."
"Ya sudah, sana susul adekmu di kamar, tidur ya, besok sekolah."
"Oke, Bu."
Beres. Anak-anak sudah mandi, makan dan tidur. Waktunya aku sendiri mengisi perut yang sedari sarapan siang belum ku isi apapun.
"Tingtunggg"
Ada pesan whassap masuk.
"Ehhhh..." Pekikku.
Aku berlari menuju pagar. Mobil hitam berplat B menepi dan parkir persis di depan pagar rumah kami. Dia datang. Aku tersenyum.
"Sudah makan?" Tanya nya dari jendela mobil.
"Belum, mas, baru saja mau nyentong nasi. Mas sudah makan?"
"Sudah tadi, ini kubawakan sop sapi kesukaanmu" kata pria yang tidak bisa disebut muda lagi tersebut mengulurkan kantong kresek berisi sop sapi kesukaanku.
Kami berjalan masuk ke dalam rumah sambil dia memeluk bahuku dari samping.
Beliau langsung menuju kamar anak-anak. Dengan agak setengah kecewa, beliau menutup pintu kamar anak-anak, jelas terlihat dari air muka beliau, rasa rindu yang menumpuk seminggu ini pada anak-anak belum dapat terobati.
"Besok kan bisa, Mas main sama anak-anak dulu" ujarku padanya.
"Besok subuh aku harus ke Jakarta lagi, Limar, kamu juga tau, kan" jawabnya singkat
"Kasian anak-anak, Mas, mereka rindu sama kamu, bagaimana hidup mereka kalau begini terus, Mas, mereka tidak pernah bisa mendapatkan sosok ayah selama ini." Rentet nada kalimatku mulai meninggi.
"Mulai lagi, kan, sudahlah aku sesang capek sekarang, aku malas berdebat hari ini, aku cuma ingim istirahat jauh-jauh kesini, bukan untuk mendengarkan semua kesahmu yang tidak berkesudahan itu". Jawabnya dengan nada hopeless
"Selalu seperti itu..." Jawabku lemah sbil nerlalu menuju dapur
Kuselesaikan makan malamku dan tak terasa airmata yang sudah kubendung daritadi pun mengalir deras. Sambil twrus berusaha kutahan agar tak makin menjadi, ku kencangkan keran air wastafel. Dan ternyata sia-sia...
"Kamu kenapa sih, Limar... Bertahun-tahun kamu tahu memang seperti ini keadaannya... Mau sampai kapan seperti ini, ayolah, kita jarang sekali bertemu, aku sangat merindukanmu dan anak-anak tentunya..." Ucapnya sambari berusaha memelukku
"Sampai aku bosan dan sudah tak tahan lagi menjalani hidup seperti ini, Mas... Entah sampai kapan aku bisa bertahan, entah sampai kapan aku bisa menjalaninya, dan kalau nantinya aku sudah di titik dimana aku sudah tak bisa lagi berjalan bersamamu, biarkan aku dan anak-anak berjalan menjauh, Mas... Lepaskan kami" berderai sudah airmata ku
"Kamu ngomong apa sih, Limar, sudah malam, ayo kita tidur..." Jawabnya seraya berlalu meninggalkan ku sendiri
.....
Pagi buta, Beliau sudah mandi dan bersiap berangkat kembali ke Jakarta. Pria berperawakan tinggi besar dengan rambut cepak itupun sudah rapi memakai kemeja kerja nya.
Setelah terlihat menghampiri anak-anak yang masih tertidur lelap tentunya, beliau bergegas membawa tas dan kunci mobil dan menghampiriku.
"Aku pergi dulu, Ya... Titip anak-anak, uang bulanan masih kan? Nanti kuntransfer lagi agak siang, ya" kata beliau sambil mengecup dahiku lembut
"Aku masih rindu, Mas..." Jawabku lirih
"Sama, aku juga... Minggu depan ku usahakan kesini siang supaya bisa ketemu anak-anak"
"Hemmmm..." Ujarku dengan penuh ketidakpercayaan
Dan beliau berlalu begitu saja, tinggal aku di depan pagar dengan dinginnya angin subuh.
Mobil CR-V hitam itu pun sudah berlalu sedari tadi, namun aku masih belum juga bergeming dari tempatku berdiri.
Ahhhh, airmata lagi, sudah bosan rasanya dengan airmata ini.
Ingin kuakhiri semua ini, tapi mengapa selalu selalu dan selalu tak pernah bisa. Ya Allah, apakah akan begini saja seterusnya. Sampai kapan.
Apakah aku sudah terlampau cinta padanya hingga hidup pas-pas an pun kuterima, dan bukan menjadi yang pertama. Aku hanya pilihan baginya namun beliau bukan pilihan bagiku, melainkan yang utama bagiku dan anak-anakku. Mana bisa aku menjauh darinya, mau pergi kemana kita.
Kuusap kasar airmata yang menetes di peluh pipiku. Berat, sangat berat...
Salah siapa?
Semua salah, aku tak akan pernah menyalah siapa pun, karena aku pun sadar aku menerimanya di saat sudah pasti aku bukan yang pertama dan yang utama di hatinya, di hati pria yang sepantasnya ku panggil "Paman" itu.
Delapan tahun sudah kujalani hidup hina seperti ini. Belum sebanding sebenarnya dengan hidupku yang terlahir sebagia yatim piatu dan sudah merasakan pahit dan kerasnya hidup dari usia belia.
Setidaknya sekarang aku dapat bersandar pada seseorang meskipun masih dalam kondisi yang pas-pas an. Bohong apabila kau melihat kisah-kisah diluaran sana hidup sebagai seorang simpanan dengan semua yang serba mewah, tidak semua, karena ada di antaranya yang cuma tergiur cinta dan rela menjadi yang kedua, ketiga atau bahkan ke empat dnegan hidup yang serba biasa.
Bodoh ya, ucap saja aku bodoh, aku memang sebodoh itu, biarlah dunia yang mengecapku, aku sudah bebal dengan semua rasa hingga air mata pun terasa sepa di kecapku.
Mungkin... Mungkin nanti, bila suatu saat aku sudah benar-benar tak bisa lagi menjalaninya, aku kan berlari menjauh dari pusaran hidupnya, nanti suatu saat, atau mungkin juga tidak...
Langit semakin memudar gelapnya.
Warna terang sang surya mulai terlihat semburat gradasinya di ufuk timur sana. Sudah pagi, mari kita sambut hari ini, hari yang baru, yang mungkin sama suramnya, hidup sebagai Shalimar, si istri kedua...
Trust-Issue
Monday, 19 July 2021
He does know me ❤️
Jadi begini,
Aku kaget sih (bangetttt!!!) Dengan kenyataan bahwa ada orang sangat amat mengenalku bahkan lebih dariku sendiri.Siapa sih?
Suamiku 😳....
Why does he know me better than me my self??
Kejadian hari ini,
Ini cerita bukan buat sombong atau pamer ye...
Kalau dibuat perumpamaan bingung soalnya.
Jadiiiii, tahun ini kita tuh memutuskan untuk skip Qurban dengan beberapa pertimbangan.
Ya, actually, "the complicated me" sih yang ngasi masukkan dan condong kalo skip aja lah ya, tahun depan InsyaAllah kita nabung buat qurban.
Dan, oke, dia setuju,
Udah ni kannnn, case closed, kita udah g bahas lagi masalah ini...
Mendekati hari H qurban, hatiku ini malah yang menggalau ora karuan, rasanya, ya gimana sih, bingung aja gt, kok begini ya, nanti kalau begini gimana? Dan sebagai sebagainya.
Shortly, H-1 Idul adha dan saat itu pun udah sore, tiba-tiba aku ngebahas soal qurban itu lagi, singkat kata aku ngerasa kita tu mampu lho, kenapa enggak cuma gara gara satu dua hal,
Dannn, diputuskan tiba-tiba ya udah yuk cari kambing, dalam H-berapa jam itu kan.
Suami selow, sabar ngadepin aku yang labilnya tingkat dewa begini.
Bla bla, kelar, Alhamdulilah lancar, dapet kambing jg, walaupun serba gedebukan 🤣 ...
Notice lah aku satu hal, ku lihat kuku dia (suami) panjang, tanya dong aku,
"Kok kuku mu panjang?sengaja g kamu potong?"
"Iya..."
"Kenapa???kan kita udah mutusin skip nggak kurban taun ini kan"
"Ya aku percaya sih kamu bakal berubah pikiran"
"Hah?maksudnya?"
"Ya aku percaya aja sama kamu, kamu pasti tau yang terbaik, dan bener kan, g salah aku"
.....
Zuzur, aku speechless 😅
Antara heran, amazed, sebel, dan cintaaa...
Sepercaya itu dia ke aku,
Paham kan ya situasinya?
Dia tu kayak menjaga langkahku dari pinggir, tapi nggak ngekang ngiket kenceng, dia ngarahin dari pinggir, dia percaya aku ga akan keluar jalur, sampai ketika kemudiku rada miring dia masih sabar ngawasin dan berusaha percaya kalau kemudiku akan balik lurus lagi.
Sepercaya itu,
Thanks again,
Once more,
You show me how well you know me even better than me my self ❤️❤️...
Thanks for being there, who trust me, even better than me trusting my own self...
Yang begini ini kadang lebih mak jlebbb lebih dari sekedar kata- kata "I love you"...
Friday, 12 March 2021
My life update
Hay....
How's life?
Things are not going easier from back then...
We still fight with pandemic life, and seriously it's not easy for all of us. Who knows that it's going longer than we thought.
Feeling so stuck and hopeless, of course 😟...
I am getting getting gettinggg bored, so does my daughter. Catching some words with neighbour is absoulutely one thing I miss a lot hiks.
Uhmmm, Okay,
Today,
I wanna talk about marriage life fot sure, not a new thing probably, but,
As we know, we don't always live every single minute in a beautiful scene. Sometimes, it turn a little bit dark and not so vibrant. I know that's life, and everyone takes it too.
In my six years marriage live, many up and down things goes on and continue to happen. We're successfully going through the first 5 years. And now we walk on the 7th years of our marriage.
I just, don't know, I mean I love him, he loves me also, we each know it well I guess, we can't be separated, and we enjoy our time with our only daughter.
But,
Something is missing,
Uhmmm, maybe I am just to tired or PMS or somewhat,
I am so lonely,
I am so tired,
No one asks me, no one praises me for what I am doing, struggling everyday to keep being sane and mot mad, and some burst of tear,
Uhmmm, I don't know, maybe because recently my husband is super busy with all his work, and have no time even to talk with me before sleep.
Fortunately, he is still doing WFH, and yasss we see each other for 24 hours. and it's bland 😟, sorry but we don't talk each other. He summons me whenever he needs his food served, and note, we don't talk.
I'm so tired,
Tired like I am missing something, so spacy and empty..
I try to vanish this feeling by playing around with my daughter. still, I am a little bit dissapointed. Sometimes it comes so cold and makes me think what do we do? what the sh*t we do right now?
I guess he doesn't remember last time he said he loves me. too cliche, isn't it wkwkwkwk, but we need it...
I am just, want him to say thankyou to me, thank you for cooking, thankyou for cleaning, thankyou for look after the child, thankyou for keeping the house, thank you for being tired ðŸ˜... (I am not a "babu" by the way 😅, sounds like I am a nanny right)
I just want to hear it, to apreciate me, apriaciate all my works. That's so bloody simple. Say thankyou to your wife. It won't spend your entire life to say that word.
A simple word, but so priceless for your wife.
Hemmmmm,
Let's say I am just too bored right now, 😅
Saturday, 6 March 2021
Teruntuk Kau
Saturday, 9 January 2021
Sajak Duka Malam Ini
Betapa sederhana-nya hidup manusia,
Dari Ditiupkan-nya nyawa oleh-Nya,
Hingga saat meregang, lepas dari dunia fana,
Semuanya begituuuuu sederhana,
Apa yang kau punya?
Harta, Tahta, keluarga, semuanya fana,
Kecuali tali cinta-mu pada-Nya,
Semuanya begituuuuu sederhana,
Kau hanya perlu melangkah dalam pijak,
Pijak yang membuatmu tersadar,
Hanya amal yang kau bawa,
Semuanya begituuuu sederhana,
Hingga kau lupa,
Segala ini adalah milik-Nya,
Semuanya,
Maka sadarlah wahai manusia,
Untuk selalu berserah,
Pasrah,
Lillah,
dan,
Berdoa,
Berbuat,
Demi Ridho-Nya,
Sangat sederhana, bukan?!
Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun
-My deepest Condolence and pray for all families left behind and Al Fatihah for all SJ182 Victim-
May Allah S.W.T bless Us all, amin...