Sunday, 9 April 2023

Live Your Life Like Riding on A Ferris Wheel...

Hidup itu seperti misteri yah....

Anything can happen, anything can't happen....

You can go upside or go downside,

Andaikata digambarkan mungkin seperti menaiki bianglala...

Yuppps, bianglala, pernah naik bianglala??? Ketika si bianglala itu berputar, ada waktu dimana kita berada di atas dan tersenyum melihat indahnya pemandangan dari ketinggian. Namun ada kalanya kita berada di bawah.

Begitu pun dengan hidup,

Ada kalanya kita berada di atas, namun tentu ada waktu di mana kita harus mau tak mau berada di bawah.

Fase ini, kuanggap aku sedang berada di bawah,

Kucoba mengkalkulasi hal hal yang sudha terjadi belakangan ini, dan mostly hal yg negatif terjadi lebih banyak ketimbang yang positif.

Stress, emosional, apa lagi?

Banyak,

Kehidupan rumahtanggaku pun bergejolak,

Dengan sifat burukku yang keras kepala dan tak tahu diri,

Ya, I found how toxic I am towards our marriage.

Apa sih yang kalian rasakan ketika kalain sadar bahwa kalian yang se toxic itu terhadap pasnagan kalian?

Mau pisah, ada anak,

Berusaha memperbaiki diri?

Ya, akan kucoba sebisa ku,

Ditambah dengan sifat pasanganku yang sangat uncontrolled ketika sudah meledak,

Mau tak mau aku harus mengalah,

Tapi tahu tidak, I have to heal my oen wound, rasa trauma acap kali dia meledak dengan melukai dirinya, membanting2, it's such a damn things, karena udah, bisa apa aku kalau sudah dihadapkan dengan yang seperti itu...

Iya, dari hati yang paling dalam, I'm the one who made the mistake, memang salah kok aku sampai membuat dia meledak seperri itu, aku yang memang sudah keterlaluan...

But why? Seketerlaluan apapun aku, mengapa musti doing that miserable things yang membuatku mentok ga ngerti lagi mestu gimana...

If you read this, I am so broken, I am so hurt everytime you do those miserable things, I can't communicate with you not even try to talk in a fine way, my heart go into pieces 😭😭, can't you see it... I'm so pale, I am so afraid, I'm so confused...

Don't you see,I've tried to change into a better person, I try to control my self when we are in fight, I try to control my words, I even don't dare to mention about breaking up and throwing things and hurting my self, I have commited those things, just why? Why do you?

Menikah itu ga selamanya soal rasa,

Yang lebih berat itu menahan...

Dan bodohnya aku sadar betapa toxic nya sifatku. Dengan aku yang tak tahu waktu meneter, tak mampu sabar, tak mampu menerima keadaan rumah tangga, dan sangat sangat cereewet, siapa yang tahan hidup dengan aku yang begini?

Terlebih lagi, satu sifat toxic yang mungkin bisa merusak diriku sendiri, yaitu kurang bersyukur,

Ya aku tahu, sangat salah, 

Diriku pun bisa hancur dengan terus menerus seperti itu, hidup tak akan ada bahagia-bahagia nya 😭😭😭, I know that...

Aku juga ingin berubah, berbenah, menjadi lebih baik, aku hanya butuh waktu, beri aku kesempatan...

Kadang aku juga menjadi takut bermimpi, karena bermimpi hanya akan membuatku sakit, tatkala mimpi itu belum bisa terwujud, aku akan menggila dan menjadi kurang syukur, apakah lebih baik tak bermimpi hehe...

Banyak mimpi yang kami rajut,bedanya dia bisa memilah kaoan harus memikirkan mimpi itu dan menyandarkannya ketika memang belum dapat digapai, sedangkan aku, ketika ada mimpi yang harus kucapai, semuanya jadi terasa in rush dan akan sangatttt sangatttt emosional ketika ada hal yang tak sesuai dgn yang kuharapkan...

Dan terusss menerusss akan kubahas tanpa melihat waktu dan kondisi, ya siapa yang tak muak hehe... 

Iya setoxic itulah aku, maka tak heran lah dia sampai se histeris itu ketika sudah berada di ujung...

Namun jujur sebingung itu juga aku menghadapi dia dengan sifat histerisnya itu, kenapa musti seperti itu, padahal ayo kita saling luapkan beban, cerita, memgeluhlah padaku, I will listen to you, just tell me, tell me...

Dan sekarang semua sudah terlanjur,

Aku hanya takut,

He will not be the same as he used to be...

Seeing me in different side..

And the love has been gone among us? Is it? 

Aku hanya takut...

Ketika mengingat dia juga tam bs berubah dalam hal mengontrol kemarahannya, rasa ingin stop semua ini sangat menggebu, aku ingin pergi saja dr hidupnya agar dia tak menderita seperti ini 😭😭😭, tapi ada anak yang harus kami jaga, tapi aku takut, aku sudah tak ingin melihat cafa dia meledak seperti itu, aku bingung dan nasih harus berusaha menahan emosi agar tak semakin memburuk...

Aku salah, and I know it...

So sorry...

Maafkan aku...


Monday, 20 February 2023

Deja Vu



Siang berjalan seperti biasa saja. Normal, namun ada rintik hujan yang menemaniku yang tak biasanya hadir di tengah siang bolong seperti ini. Sudah pukul satu siang rupanya, waktunya jalan menjemput si anak kelas satu SD kesayanganku. Jalanan nampak sepi dan masih ditemani dengan rintik hujan yang semakin deras, kulajukan mobil dengan pelan. 


Pemandangan sepanjang jalan tak begitu berbeda, tak terkecuali angkot yang berlalu lalang tanpa aturan yang terkadang membuatku tak sengaja mengumpat. Tepat di pertigaan, mobil terhenti sejenak menunggu beberapa rombongan motor yang sedang menyeberang. Perhatianku pun tertuju pada sebuah motor yang dikendarai seorang bapak dan anaknya yang berseragam SD basah kuyup di tengah derasnya hujan dan mereka saling bertatap, tertawa dengan sangat riang seakan mempermainkan sang hujan. Sang bapak nampak menyeka air hujan namun gurat bahagia masih menghiasi wajah lelah tersebut.


Tanpa sadar aku pun tersenyum. Aku iri…

Nampak bahagianya kau, Nak, ada canda seorang Bapak menemani harimu…


Ingatanku berlari, ada Deja Vu menghampiri. Sebuah potongan adegan yang nampaknya pernah sekali ada di dalam kisah novel hidupku. Tapi sepertinya sudah mulai usang dan lama hingga nyaris terlupakan, di sekelumit hidupku yang semakin sibuk dengan kehidupan keluarga kecilku dan hingar bingar yang meramaikan kedewasaanku. Butiran debu yang lambat laun menutup kenangan-kenangan indah masa kecilku.


Tak bisa kupungkiri. Ada slot waktu dimana aku sangat merindukannya, seringkali dalam doa yang kuhantarkan di tiap akhir sholatku. Kupejamkan mataku sejenak hanya untuk mengingat bagaimana suara dan senyumnya. Seperti sebuah kaset usang yang kembali diputar, sedikit serat dan lapuk namun begitu membuat jiwa ini terbuai. Lega hati ini ketika bisa menemukan kembali memori bagaimana Dia tertawa bagaimana Dia bergumam, marah, dan berteriak.


Hampir sepuluh tahun sudah berlalu sejak kepergian Bapak. Bapak yang meninggalkan kami semua tanpa berpamitan. Ibuk yang sudah kau tinggalkan hingga harus menikahkan kedua anak perempuannya dengan peluh letihnya sendiri.


Memori bagaimana rasanya duduk di meja penghulu tanpa kehadiran seorang Ayah dan hanya seorang wali yang menikahkanku saat itu kembali ter-restore di dalam otakku. Lucunya saat itu tak hanya tangisku saja yang pecah. Tangis suamiku pun terdengar pecah sesaat setelah melafalkan kalimat ijab qobul. Suasana haru biru pun tak terelakkan.


Lihatlah, Pak, kedua cucumu yang lucu ini. Oh iya, aku  sampai lupa, Bapak juga tak sempat sama sekali melihat lahirnya cucu-cucumu yang sangat ku yakin Bapak pasti bahagia sekali bermain dengan mereka. sayang nya, anakku semata wayang dan keponakanku tak bisa mengenal dan merasakan dekap Akungnya. Foto, satu-satunya media bisu yang mampu menuntaskan rasa penasaran mereka akan Akungnya.


Kami bisa melewati semuanya, Pak…

Meski banyak air mata dan tawa yang sudah kami perjuangkan…

Tengoklah kami yang mampu bertahan namun sangat amat merindukanmu ini…


Waktu tak akan pernah mampu menebus semua rasa perih ini. namun, waktu jua lah yang bisa menghadirkan kembali Deja Vu. Bahkan pusara sederhana yang berdiri kokoh sebagai tempatmu beristirahat hanya mampu membisu menatap kami yang terkadang datang berkunjung hanya untuk sekedar melepas rindu.


Meski kini ada lelaki yang berdiri disini mencintaiku dengan sepenuh hatinya sebagai suamiku, namun tak ada yang mampu menggantikan kehangatan cinta seorang Ayah pada putrinya. 


Kami  semua merindukanmu, Pak…

(Al Fathihah)...