Derik suara jangkrik saling menyahut memecah kesunyian malam. Rasanya semakin menegaskan bahwa malam sudah semakin larut. Aroma tanah selepas hujan menyeruak ke seluruh penjuru. Segar, pekat namun tak berlebihan, itu jelas hanya Sang Pencipta yang mampu meramunya.
Kupandangi beberapa bintang yang nampak berkedip. Indah, seakan saling membisikkan salam malam dan rasa terimakasih untuk hari ini.
Semakin dingin,
Kurapatkan kembali sweater rajut yang sedari tadi kupakai. Masih begitu dingin, dan membuat ku tersadar, sudah menua rupanya raga ini.
"Buk..?? kok belum sare, to??"
"Iya, sebentar lagi, masih belum bisa merem tadi."
"Ya sudah nanti kalau sudah terasa ngantuk masuk ya, Buk... Anin masuk kamar dulu, ya, besok Anin masuk pagi." Ujar anak gadisku yang genap berumur 25 tahun esok lusa
"Iya, nduk... Emmm, Nduk???"
"Ya??? kenapa, Buk?"
"Hemm, Mbak Jelita ndak pernah nelpon kamu, Nduk?"
"Emmm, sudah lama nggak telepon kayaknya, Buk, mungkin Mbak Jelita sama Mas Bagas sibuk, Buk."
"Iya mungkin ya, yawis cepet tidur sana biar besok ndak terlambat bangun."
....
Masih enggan untuk beranjak dari kursi kayu yang sedikit terdengar reyot bila aku bergerak sedikit saja, kupandangi sekali lagi langit malam ini.
"Kemana mereka, ya? sudah hampir sebulan sejak kepulangan mereka, kok belum ngabari aku juga." Gumamku lirih pada diri ini sendiri
Aku merindukan Aruna. Bocah lima tahun, cucuku satu-satu nya, paling tidak hingga saat ini, dari anak pertama ku, Bagas. Terbayang celotehan lucunya yang kerap kali membuatku terkekek-kekek. Hemmm, seandainya aku bisa memeluk nya setiap hari tanpa terhalang jarak yang ratusan kilometer ini, betapa bahagianya hari-hariku.
"Aruna kangen Mbah Putri nya ini ndak, ya?"
"Bagas sama Jelita kangen aku ndak, ya?"
"Bagaimana kabar mereka, ya?"
"Apa aku besok telepon mereka, ya?"
"Apa Bagas lupa sama aku, Ibuknya ya?"
"Apa Jelita lupa sama aku, ibu mertua nya?"
"Apa Jelita sebenarnya ndak suka sama aku, ya?'
Banyak sekali pertanyaan dalam hati ini. Rasa ingin menghubungi mereka tiap waktu namun selalu kutepis pun semata mata karena aku tidak ingin mereka terlalu terganggu dengan kehadiranku. Aku hanya tidak ingin menjadi profil Ibu yang terlalu ikut campur dengan kehidupan rumah tangga anak-anakku pun pada anakku perempuan kelak ketika dia menikah.
Tapi mengapa aku belum juga bisa mengerti isi hati menantuku, Jelita yang sudah hampir 7 tahun ini ku kenal. Dia anak yang baik, aku beruntung bisa menitipkan anak laki-laki ku satu-satunya pada perempuan mumpuni sepertinya yang rela untuk berkorban melepaskan mimpi-mimpinya demi mengurus keluarga.
Namun terkadang ada sepercik tanya di hati ini, apakah aku sudah menjadi mertua yang baik untuknya, apakah dia merasa nyaman menjadi menantuku?
Entahlah, pertanyaan yang masih belum juga bisa terjawab.
Malam sudah semakin sangat dingin.
Kuputuskan untuk beranjak dari bangku kayu ini. Langkah kaki dialasi sandal teplek ini terasa sedikit basah dengan menyeruaknya kubangan bekas air hujan seharian tadi.
"Semoga mereka sehat selalu..."
Doaku, dari seorang Ibu...
No comments:
Post a Comment