Thursday, 3 December 2020

Satu Pertanyaan

Matahari masih enggan menampakkan diri seharian ini. Rintik hujan masih anteng menemani detik demi detik. Sudah pukul tujuh malam rupanya.

"Mas Bagas kemana ya kok belum sampai rumah juga" bisikku hampir tak terdengar pada diriku sendiri.

Sembari berjalan ke dapur ku tengok kamar Aruna. Bocah 5 tahun itu sudah terlelap dalam mimpi dan buaian suara nyanyian hujan rupanya. kubenarkan letak selimut nya yang sudah berlarian ke segala arah.

Ahhh, aku hampir lupa untuk segera memanaskan sup rawon buat makan malam Mas Bagas nanti. Tanpa kusadari aku sudah melamun hingga kuah rawon hampir membludak tumpah karena mendidih.

"Tinnnn Tinnnn..."

Suara klakson motor Mas Bagas.

"Assalamualaikum" Terdengar pintu rumah terbuka.

"Waalaikum salam, Mas, sudah pulang? kehujanan kah, Mas?"

"Iya, turun dari kereta masih hujan tadi, Dek."

"Ya sudah buruan mandi sana nanti masuk angin lho." 

Ku siapkan makan malam untuk Mas Bagas sembari menunggunya selesai mandi. Hampir lupa, aku pun belum makan malam rupanya. Kusiapkan piring untukku juga.

"Aruna sudah tidur?"

"Sudah, Mas, habis makan terus tidur dia."

Dan kami pun tenggelam dalam makan malam kami.

Hingga,

"Mas, aku pengen ngomong sesuatu..."

"Ada apa, sih, kok serius begitu..."

"Emmmm, Mas, kok Ibuk ndak pernah nanyain kabar kita ya...?"

"Maksudnya?'

"Sudah hampir sebulan semenjak kepulangan kita ke kampung, tapi ibuk ndak pernah telepon aku"

"Hemmm, lha kamu kok ya ora telepon duluan?"

"Minggu lalu aku nyoba telepon Ibuk, tapi ndak diangkat, Mas, ya mungkin Ibuk lagi sibuk, Ibuk blas ndak telepon kamu juga, Mas?"

"Lha yang biasanya telepon kan kamu to , Dek."

"Apa Ibuk ndak kangen Aruna ya, Mas?"

"Hemmm... Ya mungkin Ibuk lupa mau telepon Aruna." Jawab Mas Bagas sambil meneguk gelas minumnya.

....

"Ya mosok lupa punya cucu" Batinku dalam hati sambil membersihkan meja bekas makan malam kami.

Kumatikan semua lampu dapur, hanya lampu duduk di meja pojok yang kutinggalkan menyala.

Sekali lagi ku cek kamar Aruna, pelan-pelan kututup pintunya.

Mas Bagas sudah tertidur.

Aku pun bergegas membersihkan muka dengan harapan agar cepat bisa tidur juga, sudah sepat sekali rasanya mata ini.

"Jelitaaa, Jelitaaa, bagaimana sih biar kamu bisa mengerti isi hati Ibu mertua mu?" Tanyaku pada diriku sendiri, berbisik tentunya.

"Apa Ibuk ndak pengen tahu keadaan cucunya?"

"Apa Ibuk ndak pengen dengar suara cucunya?"

"Apa Ibuk ndak pengen liat kabar kita?"

"Apa Ibuk ndak kangen kita?"

"Apa Ibuk ndak suka sama aku, mantu nya?"

Dan berakhir lah semua pertanyaan itu di satu pertanyaan sama yang selalu kupertanyakan tujuh tahun ini.

Entahlah..

Tak ada yang bisa memberikan jawaban yang pasti.

Suara rintik hujan masih menemaniku malam ini, hingga aku terlelap dan melupakan lagi semua pertanyaanku tadi.


No comments:

Post a Comment