Berawal dari malam-malam ketika suami perjalanan sepulang dari kantor. Aku mengirim sebuah pesan singkat melalui whassapp. Apa sih isinya? teringat kalau "Vixal" dirumah sudah habis dan sudah terlalu malam untuk keluar rumah sendiri. aku pun meminta suami untuk membelikannya di toko yang mungkin masih buka.
Memoriku pun jauh jauh menerawang ke beberapa tahun silam dimana usia pernikahan kami masih sangat seumur jagung. Bisa dikatakan saat itu kondisi rumah tangga kami sangat berbeda jauh dibandingkan dengan saat ini. Dengan gaji yang pas-pas an kami hidup merantau bertiga dan dibantu oleh nenekku. rumah yang masih sangat sederhana, dapur yang masih beratap seng dangan bolong dimana-mana yang mambuatnya bocor bila hujan deras tiba dan tikus masuk dari segala penjuru arah.
Rumah subsidi yang masih sangat mentah, kami berusaha bertahan dengan kondisi yang seadanya meskipun suami adalah PNS (yang konon katanya) kementrian sultan. Namun, hal tersebut sepertinya tak berlaku karena kami bisa dikatakan nekat nikah muda. Kami menikah di umur 25 tahun. Aku yang sudah tak berpenghasilan menggantungkan seratus persen hidup kami pada suami.
Dengan bekal yang bisa dikatakan nekat kami memulai rumahtangga tanpa bantuan siapapun. kami berusaha tidak merepotkan orangtua kami meski saat itu kami masih meminjam mobil dari orangtuaku dan pada akhirnya kami bisa mencicil mobil Xenia tahun lama. Di rumah kami yang sangat sederhana ini, kami melewati masa dimana sangat minim dengna higienitas. Padahal saat itu anak kami masih bayi. Tikus dimana-mana, naik ke atas meja dapur, rak piring. Bbahkan untuk membeli rak piring yang ber-cover pun kami belum mampu. Bisa dibayangkan, tikus yang dari wara-wiri di selokan itu mondar mandir di atas piring dan dapur kami lalu kami menggnakan piring sendok tersebut untuk makan. Bayangkan betapa tidak higienis nya rumah kita saat itu. kotoran tikus berserakan tiap pagi datang dan kami mesti bersihkan jika tak mau dapur makin kotor.
Pada akhirnya jebolah pertahanan kami. Anak kami terserang bakteri yang membuatnya harus dirawat inap. Dengan kondidi keuangan yang sangat minim kami mambawa anak kami ke rumah sakit yang bagus. namun pada hari ketiga kami sudah kehabisan uang dan dengan terpaksa kami membawa puang anak kami. Sampai rumah, anak kami tak menunjukkan perkembangan baik. Kami pun dengan terpaksa harus membawa ke rumah skit lain yang lebih terjangkau dengan menggunakan BPJS.
Sungguh sebuah cerita yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. kamar mandi yang kotor dan berbau kurang sedap saking lantainya pun keramik murahan yang tak mempan digosok pun. dengan tabungan yang cuma bernilai dibawah dua juta kami hidup dengan gaji yangminim di ibukota.
Allah sungguh Maha Besar tak terkira, menguatkan kami melewati itu semua.
Bahkan sebuah roda yang telah aus pun tak selamanya ada di bawah.
Hari demi hari berlalu.
Apakah sekarang sudah jauh lebih baik?
Tentu saja...
Aku tidak mengatakan kalau kami sekarang sudah hidup berlebih...
Belum, kami belum sampai di tahap itu...
Namun kami sudah lebih dari cukup...
Rumah belum banyak berubah, namun sudah jauh lebih higienis dibanding saat itu. Banyak pertolongan dari ALLAH untuk kami. Sangat banyak.... tak terhitung.... hingga kami dapat sedikit demi sedkit membangun rumah kami meskipun hanya tambal sulam membenahi dapur dan teras. Hidup membaik....
Mungkin itulah mengapa kerap kita mendengar ungkapan "tak ada yang instan di dunia ini...". semua butuh proeses untuk bertumbuh dan menjadi lebih baik. Sedikit demi sedikit kami menata rumah tangga kami ditambah dengan masa kerja suami yang membuat penghasilan juga lebih mencukupi, pertolongan Allah yang sangat besar membantu suami mencari penghasilan tambahan hingga kami mampu membeli mobil impian kami yang sudah selalu kami idam-idam kan semenjak awal menikah.
Mukjizat Allah itu nyata.
Kadang aku berpikir bagaimana bisa kami melewati ini semua...
Pada akhirnya kami bisa, tentu tak lain dari Ridho Tuhan...
Perjalanan kami masih sangat panjang...
WE NEVER KNOW WHAT WILL HAPPEN NEXT said a very close firend of mine....
Aku dan suami pernah bergumam, kita selalu berdoa agar hari-hari kami selalu melaju naik perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit merangkak naik namun stabil, dan tak menurun itu sudah cukup. Karena memang ada jeda dimana kita harus melampaui waktu dimana kita harus terus berjuang dan berjuang...
karena inilah yang dinamakan hidup...
Asal tak sampai melupakan caranya menikmati waktu besama anak kami, karena waktu juga tak akan bisa kami putar kembali, syukuri syukuri syukuri...
Bismillah, sehat-sehat kita yah...
No comments:
Post a Comment